Mengenal Bimbel Daring Gratis “Rumah Belajar”, dari Wahana Angkasa hingga Laboratorium Maya

Apa Itu Portal Rumah Belajar?


Portal pembelajaran yang menyediakan bahan belajar serta fasilitas komunikasi yang mendukung interaksi antar komunitas. Rumah Belajar hadir sebagai bentuk inovasi pembelajaran di era industri 4.0 yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat. Dengan menggunakan Rumah Belajar, kita dapat belajar di mana saja, kapan saja dengan siapa saja. Seluruh konten yang ada di Rumah Belajar dapat diakses dan dimanfaatkan secara gratis.



Kelas Digital


Sebuah Learning Management System (LMS) yang dikembangkan khusus untuk memfasilitasi proses pembelajaran virtual atau tanpa tatap muka antara guru dan siswa. Dengan fitur ini, guru dapat memberikan bahan ajar yang dapat diakses dan dibagikan oleh siswa dalam bentuk digital kapan saja dan di mana saja.

Bank Soal


Fitur kumpulan soal dan materi evaluasi siswa yang dikelompokkan berdasarkan topik ajar. Tersedia juga berbagai akses soal latihan, ulangan, dan ujian.

Sumber belajar


Fitur yang menyajikan materi ajar bagi siswa dan guru berdasarkan kurikulum. Materi ajar disajikan secara terstruktur dengan tampilan yang menarik dalam bentuk gambar, video, animasi, simulasi, evaluasi, dan permainan.

Laboratorium Maya


Fitur simulasi praktikum laboratorium yang ada disajikan secara interaktif dan menarik, dikemas bersama lembar kerja siswa dan teori praktikum.

Layanan bimbingan online (les) sekarang tersedia secara luas. Salah satunya diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rumah Belajar.

Layanan ini disediakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan secara gratis. Di Rumah Belajar, semua orang dapat mengakses berbagai materi pembelajaran.

Di situs resmi Rumah Belajar, Belajar.kemdikbud.go.id, ada 8 fitur utama seperti Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik, Bank Soal, Laboratorium Virtual, Peta Budaya, Pelayaran Luar Angkasa, Pengembangan Profesional Berkelanjutan, dan Kelas Maya.

Untuk materi pembelajaran, Rumah Belajar tidak hanya menyediakan format yang monoton, tetapi juga bersifat interaktif dengan bantuan media pendukung seperti gambar, video, animasi, dan sebagainya.

Kepala Subbagian Aplikasi dan Kontrol Kemendikbud Hendriawan Widiatmoko, Rabu (17/7/2019) siang, mengatakan bahwa Rumah Belajar mulai dirintis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2008 dan secara resmi diluncurkan 3 tahun kemudian.

berdiri sejak


Hendriawan mengatakan, Rumah Belajar menjadi pengembangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal penyediaan media pendidikan kepada masyarakat.

"Dulu ada CD pembelajaran yang kami berikan ke sekolah. Mulai tahun 2008 kami merintis, tahun 2011 kami meluncurkan Rumah Belajar, sehingga konten yang masih dalam bentuk CD, dalam bentuk media pembelajaran lainnya, sudah online melalui web, "kata Hendriawan.

Tujuan yang dituju

Hendriawan mengatakan, ada dua hal utama yang menjadi tujuan Rumah Belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pertama, akses ke materi pembelajaran yang lebih luas dan lebih mudah.

"Karena kami membagikan CD dalam jumlah terbatas, maka kami online, jadi kami berharap Rumah Belajar ini dapat diakses oleh siapa saja, dari mana saja," kata Hendriawan.

Kedua, meningkatkan kemampuan guru untuk beradaptasi dengan teknologi sehingga proses belajar-mengajar bisa berjalan sesuai perkembangan zaman.

"Kami berharap bahwa Rumah Belajar memprioritaskan peran guru sehingga ia dapat benar-benar optimal. Awalnya mungkin ada tanggapan 'wow guru kami tidak diperbarui'. Sekarang kami mencoba menghilangkan stigma seperti itu," katanya.

Materi pembelajaran


Semua bahan pembelajaran yang tersedia di Rumah Belajar berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terutama yang ada dalam fitur Sumber Belajar.

Materi tersebut meliputi tingkat PAUD, SD, SMP, hingga SMA dan sekolah menengah kejuruan.

"Untuk materi dalam Sumber Belajar, kami menyediakan semua materi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi kami juga memiliki konten yang dikirim dari kontributor," kata Hendriawan.

Hendriawan mengatakan, materi selalu diperbarui sesuai dengan kurikulum pembelajaran saat ini, Kurikulum 2013.

"Dalam hal konten, kami selalu mengikuti. Jadi jika Anda memperhatikan ada beberapa konten yang masih mengikuti kurikulum lama, 2006. Ada juga konten baru yang telah mengikuti kurikulum 2013," katanya.

Semua materi ini dapat diakses dan diunduh secara bebas oleh siapa saja tanpa perlu mendaftar. Dengan demikian, materi yang tersedia di halaman online masih dapat diakses secara offline jika Anda tidak memiliki jaringan internet yang didukung.

Mentor online


Salah satu fitur di Rumah Belajar adalah Maya Classroom. Di sana, guru dan siswa dapat melakukan interaksi belajar melalui jaringan internet.

Sistem yang berlaku di Rumah Belajar, guru dari berbagai sekolah akan diajari secara offline cara menggunakan Kelas Maya di Rumah Belajar.

"Kami melatih guru di seluruh Indonesia, kami memiliki perwakilan di setiap provinsi, kami sebut sebagai Duta Rumah Belajar. Kemudian kami mencoba untuk dapat membimbing siswa mereka menggunakan Kelas Maya Rumah Belajar, online," kata Hendriatmo.

Namun, Kelas Maya tetap terbuka untuk semua orang meskipun tidak ada guru yang membuka kelas belajar di sana.

"Ada beberapa guru yang mungkin secara sukarela membagikan materi mereka dengan siswa di daerah lain," katanya.

Perbedaan dengan les online berbayar
Perbedaan pertama antara Rumah Belajar dan berbagai les online berbayar di luar sana adalah dari segi pendanaan.

Rumah Belajar dapat dinikmati oleh siapa saja secara gratis tanpa biaya.

Sementara itu, perbedaan selanjutnya terletak pada konsep awal yang diusung, yaitu tujuan untuk meningkatkan kapasitas guru di sekolah sehingga mereka dapat mengajar sesuai dengan perkembangan teknologi, tidak hanya di dalam kelas dengan menerapkan metode konvensional.

"Kami memprioritaskan memberdayakan guru, sehingga guru lebih kreatif, lebih inovatif. Jadi guru yang dulu mengajar di kelas masih konvensional, kami mengajarkan mereka bagaimana membuat pembelajaran lebih menarik bagi siswa di sekolah mereka," kata Hendriawan.

Dalam statistik Kelas Maya di web, diketahui bahwa program dengan jargon "Belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja" telah dihadiri oleh 74.543 siswa dan 14.829 guru aktif di dalamnya.

Angka itu tidak termasuk akses yang tidak melakukan es prosregistrasi. Yaitu, mereka yang hanya mengakses Fitur ss yang tidak memerlukan registrasi.

baca juga: Apa Itu New Normal dan Bagaimana Penerapannya Saat Pandemi Corona?


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel