Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Muhammadiyah Dukung Kurikulum 2013

Walau masih kontroversi berkenaan kurikulum2013 tetap berlangsung, di antara organisasi berbasis Agama, Muhammadiyah, memberi dukungan kepada langkah kementerian pendidikan dan kebudayaan ( kemdikbud ) guna menambah mutu pendidikan melewati pergantian kurikulum.


ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyebutkan bahwa kebijakan yang di ambil oleh kemdikbud saat ini untuk memperbaiki mutu generasi bangsa melewati pendidikan tersebut searah dengan motivasi yang diusung oleh muhammadiyah. karenanya, pergantian kurikulum2013 yang mempunyai tujuan memajukan anak bangsa ini beroleh dukungan penuh.

pergantian untuk kearah yang tlebih baik, layaknya halnya pergantian kurikulum yaitu searah dengan visi serta misi muhammadiyah, kata din, didalam info pers kemdikbud. (dikutip dari kompas)

bukan sekedar sebatas berikan dukungan, ia juga merencanakan dapat memulai untuk menggelar kursus untuk guru-guru di sekolah muhammadiyah serta menghendaki menteri pendidikan serta kebudayaan mohammad nuh untuk buka kursus tersebut sekalian lakukan sosialisasi.

kami minta pada mendikbud untuk buka acara sosialisasi serta kursus untuk guru-guru muhammadiyah di yogyakarta, tutur din.

setelah itu, din menghendaki pada badan otonom muhammadiyah yaitu Dikdasmen Muhammadiyah yang mengurusi pendidikan dasar serta menengah untuk berkoordinasi dengan kemdikbud supaya kurikulum baru pada juli mendatang bisa berjalan lancar di sekolah muhammadiyah yang tersebar di seluruh indonesia. sumber:kompas
Read more

Senin, 07 Januari 2013

Kurikulum "Berpikir" 2013 by Rhenald Kasali


Di banyak negara, saya sering menyaksikan siswa sekolah atau mahasiswa yang aktif berdiskusi dengan guru atau dosennya. Persis seperti yang dulu sering kita lihat dalam iklan margarin pada tahun 1980-an, atau gairah siswa Wellesley College yang kita lihat dalam film Monalisa Smile.

Sewaktu mengajar di University of Illinois, saya kerap berhadapan dengan anak-anak seperti itu. Karena materi yang harus diajarkan begitu banyak, saya menjawab seperti kebiasaan guru di sini. ”Sebentar ya. Biar saya selesaikan dulu.” Namun, anak-anak itu tetap tak mau menurunkan tangannya sebelum dilayani berdiskusi.

Belakangan saya diberi tahu bahwa pendidik yang baik harus cekatan melayani diskusi, bukan meringkas isi buku. Seorang guru besar senior mengingatkan, ”Kami bersusah payah mengubah satu generasi, dari TK hingga SLTA, mengubah kebiasaan siswa yang malas berpikir menjadi aktif mengeksplorasi dengan lebih percaya diri.”

Mengapa tradisi seperti itu tidak terjadi di sini? Bahkan di perguruan tinggi semakin banyak dosen mengeluh bahwa anakanak sekarang tidak gemar membaca sehingga tidak bisa diajak berdiskusi.

Dihafal, bukan dipikir

Anak-anak kita punya tradisi belajar yang sangat berbeda, yang mengakar sejak taman kanak-kanak. Mata ajaran yang dipelajari jauh lebih banyak, tetapi tidak mendalam. Kalau sulit, rumus yang sangat banyak dibuatkan jembatan keledai atau singkatan-singkatan agar mudah dikeluarkan dari otak.

Cara belajar yang demikian berpotensi menghasilkan ”penumpang” ketimbang ”pengemudi”. Karena itu, banyak orang yang lebih senang duduk menunggu, hidup ”menumpang”, ”dituntun”, atau diarahkan ketimbang menjadi pengemudi yang aktif dan dinamis.

Seperti tampak di angkutan umum, penumpang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, sibuk sendiri, tak perlu tahu arah jalan, dan praktis kurang berani mengambil risiko. Sementara pengemudi adalah sosok yang sebaliknya. Karena orangtua juga dibesarkan dalam tradisi belajar yang sama, tradisi serupa ada di rumah. Dengan jumlah mata ajaran yang semakin hari semakin banyak, jumlah yang dihafal siswa di sini juga semakin memberatkan.

Perhatikanlah bagaimana siswa berikut ini belajar. Siswa kelas I SD yang ibunya bekerja mengucapkan kalimat ini: ”Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Ayah ke kantor mencari nafkah, ibu merawat anak-anak di rumah.” Anak itu sempat protes karena ibunyalah yang bekerja, tetapi ibu guru menyatakan ”Dihafal saja karena bukunya berkata demikian”. Ibu di rumah berkata serupa: ”Kalau engkau mau naik kelas, dihafal saja.”

Daya kritis tidak diberi ruang, pertanyaan-pertanyaan penting yang diperlukan manusia untuk bernalar dimatikan sedari muda. Sementara mata ajar kesenian yang diadakan untuk merangsang daya kreasi juga distandarkan dan dihafal. Seperti yang dialami anak-anak yang menggambar pemandangan: gunung dua berjajar, matahari di tengah, dan seterusnya.

Hafalan diperlukan untuk mengikuti ujian nasional dan agar diterima di perguruan tinggi atau menjadi pegawai negeri sipil. Bahkan untuk diterima di jurusan seni rupa sebuah perguruan tinggi negeri terkenal, ujian masuknya juga ujian menghafal, bukan portofolio karyakarya calon mahasiswa.

Demikianlah penumpang, sekolahnya menghafal tetapi tidak berani berbuat, apalagi menyatakan identitas diri atau berpikir. Ini ditambah lagi tradisi membesarkan anak yang sejak lahir tubuh dan kedua kaki-tangannya dibedong lalu digendong. Sekalipun sudah bisa berjalan, kita selalu dituntun orang dewasa. Beda benar dengan tradisi belajar di negara-negara yang mendorong manusianya berpikir dan bertindak. Di negeri penumpang, wacana berlimpah, gagasan hebat mudah ditemui di televisi, tetapi sedikit sekali kaum elite yang bergerak.

Kurikulum berpikir

Gagasan merampingkan jumlah mata ajaran tentu saja tak boleh diikuti oleh rasa takut yang berlebihan di kalangan para pendidik. Sebab, sebagaimana layaknya setiap perubahan, maka tak pernah ada perubahan yang langsung berakhir dengan kesempurnaan. Namun, satu hal yang pasti, seperti orang yang berfoto bersama, maka setiap orang akan selalu melihat pada wajahnya masing-masing. Ia akan mengatakan fotonya bagus, semata-mata kalau dirinya tampak bagus.

Bagi saya, perubahan kurikulum yang ramai diperbincangkan seharusnya dapat dilihat pada aspek lebih luas daripada sekadar merampingkan mata ajaran. Perubahan ini seharusnya dapat dijadikan momentum untuk melakukan transformasi diri manusia Indonesia dari tradisi mindset ”penumpang” menjadi cara berpikir ”pengemudi”. Transformasi ini berdampak sangat luas yang sudah pasti membutuhkan penyempurnaan bertahap hingga ke tingkat pendidikan tinggi.

Riset-riset terbaru menunjukkan, betapa banyak cara kita belajar sudah harus diubah. Daniel Coyle (2010), misalnya, menunjukkan kemajuan yang dicapai dalam neuroscience yang menemukan bahwa manusia cerdas tidak hanya dibentuk oleh memori otak, tetapi juga memori otot (myelin). Sementara Carol Dweck dan Lisa Blackwell (2011) menemukan bahwa anak-anak yang secara akademik dianggap cerdas berpotensi menyandang mindset tetap sehingga kecakapannya untuk berkembang menjadi terhambat.

Keduanya menunjukkan cara-cara baru membentuk mental pengemudi yang sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan generasi baru di abad ke-21. Jadi, terimalah perubahan dan persiapkan lebih baik.
Oleh: Rhenald Kasali Guru (Besar FE-UI) (Sumber : http://edukasi.kompas.com/)
Read more

Minggu, 23 Desember 2012

TIK Di Hapus Dari Mapel SMP Dan SMA

Walaupun banyak yang menentang perubahan kurikulum dari KTSP ke Kurikulum 2013, sepertinya pemrintah akan mengusahakan agar kurikulum2013 bisa di berlakukan tahun depan. Kalu pembaca belum tahu bisa di downloads draft kurikulum2013 di artikel saya sebelum nya uji publik kurikulum2013.
Salah satu poin dalam kurikulum2013, yang bakalan di hapus dan di hilangkan dari mapel smp dan sma adalah TIK -Teknologi Informasi Dan Komunikasi, sebagai guru TIK tentunya menyesal kenapa TIK dihapus pada kurikulum 2013. TIK akan di intregasikan pada semua mata pelajaran yang ada,( cakipin kutip dari @enggar . )
Sudah siapkah sekolah jika tik terintegrasi ke semua mapel. Jika tik terintegrasi maka sekolah harus menyediakan segala sesuatunya. Minimal lcd proyektor di tiap-tiap kelas, itu minimal jika sekolah standart kebutuhan sekolah jika kurikulum13 di berlakukan.
Lantas kemana guru tik, jika guru tik tidak lagi mengajar maka kesempatan sertifikasi pastinya tidak ada. Pensiunkah guru tiknya, jika pensiun maka sekolah juga akan kebingungan karena tidak semua guru menguasai komputer. menurut mendikbut guru tik akan di alihkan menjadi konsultan di sekolah masing-masing dan atau tata usaha.

Read more

Rabu, 12 Desember 2012

Download Kode Etik Guru


berikut adalah culikan kode tik guru link downloads di bawah

Guru Indonesia
bertanggung jawab mengantarkan siswanya untuk
mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua bidang
kehidupan. Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan selayaknya tidak
mengabaikan peranan guru dan profesinya, agar bangsa dan negara dapat tumbuh
sejajar dengan bangsa lain di negara maju, baik pada masa sekarang maupun masa
yang akan datang. Kondisi seperti itu bisa mengisyaratkan bahwa guru dan
profesinya merupakan komponen kehidupan yang dibutuhkan oleh bangsa dan
negara ini sepanjang zaman. Hanya dengan tugas pelaksanaan tugas guru secara
profesional hal itu dapat diwujudkan eksitensi bangsa dan negara yang bermakna,
terhormat dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini.
Peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan
guru yang profesional, setiap siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang
berkualitas, kompetetif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi
persaingan yang makin ketat dan berat sekarang dan dimasa datang.



kode-etik-guru-indonesia.pdf
Read more

Kamis, 29 November 2012

Uji Publik Kurikulum 2013-Online

Untuk menguji kurikulum 2013 pemerintah melalui Diknas mengadakan studi kelayakan online, sebelum di terapkan pada pembelajaran tahun ajaran 2013/ 2014.
Uji publik pengembangan kurikulum 2013 untuk berbagai kalangan juga dibuka secara online melalui laman http://kurikulum2013.kemendikbud.go.id.

Pemerintah berharap menjaring masukan banyak pihak untuk penyempurnaan kurikulum 2013 melalui uji publik. "Mari kita siap menerima perubahan uji kurikulum 2013. Jangan dibatalkan, tetapi tentu saja perlu sama-sama kita sempurnakan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam pembukaan Uji Publik Pengembangan Kurikulum 2013 di Jakarta, Kamis (29/11/2012). Sumber kompas

Uji publik berlangsung hingga 29 Desember. Secara nasional, uji publik dilaksanakan di Jakarta, Yogyakarta, Medan, Makassar, dan Denpasar.

Read more

Rabu, 03 Oktober 2012

Kurikulum 2013 - IPA dan IPS Di Hapus


Kurikulum Pendidikan 2013

Kurikulum 2013 Insya Allah akan berubah, dengan perubahan yang sangat fudamental, dan perubahan menset besar-besar akan terjadi. Dikarenakan kurikulum 2013 akan memangkas mata pelajaran untuk tingkat SD (sekolah dasar). Kurikulum 2013 akan berkosentrasi pada empat mata pelajajaran yaitu: matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, dan PPKN (pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) untik Mata Pelajaran IPA dan IPS akan digabung Menjadi Satu dengan nama IPU ( dibaca: Ilmu Pengetahuan Umum).  Berrikut saya kutip dari kompas

“Tapi bukan berarti mata pelajaran lain diabaikan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Khairil Anwar Notodiputro kepada Tempo, Selasa, 25 September 2012. Kurikulum 2013 nantinya tidak hanya bersifat kognitif atau hafalan saja. Tetapi juga mementingkan sikap dan keterampilan para siswa. "Misalnya, bagaimana anak-anak ini mempunyai nilai Pancasila, tidak hanya hafalan sila pertama dan seterusnya," kata Khairil. Metode inilah yang saat ini sedang dicari dan diterapkan di kurikulum baru."

Khairil juga berharap dengan penerapan Kurikulum 2013 tidak lagi di temukan, Buku-buku atau LKS yang mengambil gambar-gambar porno (seperti di temukanya gambar Miyabi pada LKS). Dan juga jam pelajaran akan di pangkas yang sebelumnya 10 jam akan menjadi 5 jam pelajaran. 

"Diajarkan 5 jam lebih bagus asal efektif daripada 10 jam tapi banyak yang tidak bermanfaat," kata Khairil."

Perubahan ini memang masih membutuhkan sosialisasi, dan juga yang saya baca di banyak media online bahwa tidak akan mempengaruhi jumlah jam mengajar masing-masing guru dan tidak akan ada PHP Guru. Akan tetapi Bagi Guru yang bersetifikasi akan di pantau dan terus akan di tingkatkan kwalitasnya dengan UKG ( Uji Kompetensi Guru) dan Pembinaan kwalitas Guru jika ada guru yang tidak memiliki kopentensi mengajar. (by.cakipin) 

Read more